”Peran Hormon Cinta Terhadap Perkembangan Psikologi Remaja”
Oleh Budi Purwanto, S.Pd.
A. Aspek Biologis
Hormon cinta adalah sebutan bagi hormon oksitosin karena pengaruhnya dalam memunculkan rasa kasih sayang kepada pemiliknya. Dalam perkembangannya, hormon ini bisa menginduksi perasaan cinta, rasa percaya, dan kemurah hatian. Hormon ini sudah bisa terpicu sejak hari kelahiran, ketika sentuhan pertama ibu kepada si bayi, juga saat kali pertama si ibu memberi ASI pertama pada anaknya. Bahkan menurut riset dari Perancis menyatakan bahwa memberikan hormon oksitosin pada orang dewasa dan anak yang didiagnosa autistik ringan bisa menjadi terapi berkualitas yang memberi efek menenangkan dan lebih mudah bersosialisasi.
Oksitosin merupakan jenis hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis (terletak di dasar otak besar) bagian tengah dengan fungsi secara umum diketahui dalam mempengaruhi pengeluaran air susu, kontraksi uterus pada saat melahirkan, membantu transpor sperma, dan mempengaruhi hipofisis anterior.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Debby Herbenick, Ph.D, wakil direktur Center for Sexual Health Promotion di Indiana University, ia menyatakan bahwa sentuhan sederhana dan ringan, seperti usapan, tepukan di pundak, atau pelukan antara teman atau pasangan sudah cukup untuk membuat otak memproduksi hormon ini dan mengirimkannya ke sistem tubuh. Ketika ini terjadi, tingkat hormon stres pun akan berkurang, menurunkan tekanan darah, dan memberikan rasa kedekatan dan kenyamanan. Menurutnya cara yang harus dilakukan agar hormon cinta dapat terus mengisi hari – hari kita adalah sebagai berikut:
a. Bergandengan Tangan
Hanya dengan menyambungkan lengan, bergenggaman tangan, atau menyandingkan lengan di pundak seseorang (tapi tanpa membebaninya) yang anda kasihi, seperti pasangan, teman, atau anak, akan membantu mendorong otak memproduksi hormon oksitosin. Hanya dengan melakukan hal-hal kecil semacam itu, anda dan orang – orang terkasih sudah akan merasa lebih nyaman.
b. Melewati Momen Bercinta yang Hebat dengan pasangan
Pasangan suami istri yang mencari dorongan oksitosin bisa mencoba mendapatkannya dengan merencanakan momen bercinta yang menyenangkan.
c. Mengkhayalkan Si Dia
Riset yang dilangsungkan oleh University of North Carolina di Chapel Hill menemukan bahwa wanita yang sudah menikah dan merasa bahagia akan dengan cepat melepaskan oksitosin ketika diminta untuk memikirkan suaminya.
d. Binatang Peliharaan
Pasangan suami istri bisa saja melewati masa-masa yang "kering" dan sulit, namun, adanya binatang peliharaan bisa membantu menjembatani rasa ini dan meredakan ketegangan di antara suami-istri. Karena pelepasan oksitosin dipicu oleh sentuhan, mengelus binatang peliharan juga bisa meningkatkan level oksitosin.
e. Kenyamanan dari Hal-hal yang Menjadi Favorit
Wangi masakan khas buatan ibu anda, mendengarkan suara dari orang yang anda kasihi, terbangun karena mendengar nyanyian burung yang sering hinggap dekat jendela kamar, atau hal-hal lain yang membuat Anda tenang dan senang selalu bisa diandalkan untuk meningkatkan oksitosin (Anonim, 2010).
B. Aspek Psikologis
Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.
Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:
1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
2. Ketidakstabilan emosi.
3. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
4. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
5. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua.
6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
7. Senang bereksperimentasi.
8. Senang bereksplorasi.
9. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
10. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.
Berdasarkan tinjauan teori perkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial dan pencapaian. Permasalahan akibat perubahan fisik banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas. Pada remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja tengah dan akhir) permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan/ keprihatinan mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang diinginkan. Mereka juga sering membandingkan fisiknya dengan fisik orang lain ataupun idola-idola mereka. Permasalahan fisik ini sering mengakibatkan mereka kurang percaya diri.
Ketidakpuasan akan diri ini sangat erat kaitannya dengan emosi, stress, pikiran yang berlebihan tentang penampilan, depresi dan rendahnya harga diri. Dalam masalah kesehatan tidak banyak remaja yang mengalami sakit kronis. Problem yang banyak terjadi adalah kurang tidur, gangguan makan, maupun penggunaan obat-obatan terlarang. Beberapa kecelakaan, bahkan kematian pada remaja penyebab terbesar adalah karakteristik mereka yang suka bereksperimentasi dan bereksplorasi.
Di samping itu alah satu akibat dari berfungsinya hormon gonadotrofik yang diproduksi oleh kelenjar hypothalamus adalah munculnya perasaan saling tertarik antara remaja pria dan wanita. Perasaan tertarik ini bisa meningkat pada perasaan yang lebih tinggi yaitu cinta romantis (romantic love) yaitu luapan hasrat kepada seseorang atau orang yang sering menyebutnya “jatuh cinta”. Dengan telah matangnya organ-organ seksual pada remaja maka akan mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan seksual.
Problem tentang seksual pada remaja adalah berkisar masalah bagaimana mengendalikan dorongan seksual, konflik antara mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, adanya “ketidaknormalan” yang dialaminya berkaitan dengan organ-organ reproduksinya, pelecehan seksual, homoseksual, kehamilan dan aborsi, dan sebagainya. Diantara perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja yang dapat mempengaruhi hubungan orang tua dengan remaja adalah : pubertas, penalaran logis yang berkembang, pemikiran idealis yang meningkat, harapan yang tidak tercapai, perubahan di sekolah, teman sebaya, persahabatan, pacaran, dan pergaulan menuju kebebasan.
Dari semua kemungkinan tersebut tentunya bukan tidak ada yang dapat dilakukan sebagai orang tua atau pendidik, ada banyak hal yang dapat dilakukan antara lain seperti:
- Meningkatkan kehangatan dari orang tua, supervisi, kontrol dan dorongan.
- Mengurangi tekanan interpersonal kepada anak
- Memperbaiki hubungan antar remaja
- Penanaman nilai - nilai moral dan agama
Pengaruh hormon oksitosin jika dari contoh sikap di atas dilakukan tentu akan memberi warna yang berbeda dari sebelumnya dan diharapkan dapat mengimbangi perkembangan psikologi yang di alami oleh mereka. Remaja akan mudah untuk berbagi permasalahannya kepada orang tua atau guru jika mereka berada pada suasana yang dekat dan nyaman. Kehangatan yang ditimbulkan dalam keluarga atau sekolah diharapkan dapat membantu memecahkan segala permasalahan yang pasti akan dialami oleh setiap remaja sebagai salah satu konsekuensi berkembangnya hormon dalam tubuh secara alami.
Referensi:
Anonim, 2010. Meningkatkan hormon cinta secara alami. http://health.kompas.com/read/2010 Download tanggal 30 Oktober 2010.
Gunarsa, S. D. (1989). Psikologi Perkembangan: Anak dan Remaja. Jakarta: BPK. Gunung Mulia
Hurlock, E.B. (1991). Psikolgi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Terjemahan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo). Jakarta : Penerbit Erlangga.
Mongks, F. J. , Knoers, A. M. P. , & Haditono, S. R. (2000). Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Santrok, J. W. (2003). Adolescence (Perkembangan Remaja). Terjemahan. Jakarta: Penerbit Erlangga